Tulisanku

Hmm.. maaf sebelumnya. Terimakasih untuk seseorang ataupun siapapun yang berkenan membaca tulisan saya ini. Tapi perlu saya beritahu, ini bukan tulisan "bagus" seperti tulisan yang bisa dimuat di majalah, koran, ataupun tulisan yang siap untuk menang jika dilombakan. Ini tulisan hanyalah sebagai pelipur hati saya. Ketika saya sedih, gundah gulana saya akan menulis sesuka hati saya. Jadi jika ada kata-kata yang menyinggung ataupun kurang berkenan bagi yang membaca tolong dimaafkan. Karena saya masih perlu banyak belajar.
 

Aku begitu menikmati permainan musim kemarau-mu.
Layang-layangku kau terbangkan dalam terik.
Kau menarik dan mengulurnya. Menerbangkannya tinggi-tinggi lalu menurunkannya ketika kau bosan.
kau menyukai itu dan mengulanginya setiap hari
Aku mulai terbiasa dan mengikuti setiap permainanmu.


(Sepasang Mata)
Ketika itu, aku bertemu sepasang mata yang tajam. Sepasang mata yang meneduhkan dan memberikan rasa nyaman dalam hatiku. Aku penasaran dan mengikuti kemana sepasang mata itu merajut. Dekat, semakin dekat, dan begitu sangat dekat aku menatap sepasang mata itu. Mencoba memasuki dan mencari arti dari setiap kedipannya. Aku menemukan sebuah rasa. Ya, rasa yang tak terungkapkan. Begitu rapi terselip dalam pupilnya. Aku berusaha menariknya, namun rasa itu semakin lekat menahan diri. Menanam dirinya agar segera bertumbuh untuk menambah teduh dalam kelopak matanya. Sejuk yang penuh dengan rahasia itu nantinya akan berbaur bersama senyumannya.


Inilah Aku
Aku yang suka berangan-angan. Beribu kata-kata yang tak sampai, beterbangan di dalam pikiranku. Satu-persatu membangun cerita yang ingin segera terwujud. Baiklah, sebelumnya apalah arti sebuah angan-angan. Terbentuk oleh keinginan tanpa usaha, tak ada harapan, dan hanya semu. Dengan diam menikmati setiap jengkal cerita yang tak berbenah. Berhamburan mencari arti dan berusaha menemukan akhirnya sendiri.

 Kau itu seperti hujan... Aku Harus melewati kemarau untuk bisa bertemu denganmu. Ketika kau ada, rintik sejukmu senantiasa memberi tanah basah serta kerindangan pada setiap daun-daunku.

Kau tau Hujanku... Walau kau sering mengalahkan matahari untuk menciptakan mendung,tapi kadangkala bersama matahari kau ciptakan pelangi indah untuk langitku.

Hujanku... apa yang akan kau lakukan ketika petir dan guruh menghalangi keberanianku untuk meraih rintikmu. Apakah aku bisa bersamamu jika aku selalu berlindung dibawah payung lebar milikku. aku bukan anak kecil lagi yang begitu riang bermain di bawah hujan tanpa takut basah ataupun kedinginan.

Kukayuh lemah kereta jiwa
 menuju setapak yang keras
Sukmaku beriring bersama
peliknya takdir yang berkoar
Raung suara riak
menyobek tubuh yang menggigil
Sayup aksara merangkai
 serpihan perjalanan yang terkoyak nestapa
Siar-siur semilir senandung
kuatkan hati yang kian runtuh
dalam gemuruh
Uluran jemari yang putih
membasuh pelan rintihanku


Aku seperti boneka kayu
Dengan guratan tipis di wajah
Aku bergerak riang ketika seseorang
Memainkan tali-tali yang mengikat tangan dan leherku
Ketika mereka puas
Aku kembali tergantung lunglai
Bersama dentang waktu


Untukmu Kak...
Aku hidup dalam rasa ini
Rasa bersalahku yang tak kunjung usai
Aku yang tak bisa lepas dari uluran tanganmu
Ingin rasa melepasnya
Tapi jika ku lepas
Tak tahu aku harus meminta kemana
Karena aku akan selalu hidup dengan tangan tengadahku

Terinspirasi dari Teatrikal Puisi IBU PERTIWI (Masayu)
Hari dimana kalian menyeret ibu kalian sudah semakin dekat
Darah dan Lebam Ibu kalian menjadi rintihan hatinya
Teriakan kejam kalian 
Memburu nafas sengal Ibu kalian
Tega sekali kalian...
Cepatlah kalian merintih sesal


Jika sudah tau begini
apa aku masih harus mengagumi dan menjaga perasaanku untuknya.
Karena apa yang aku pikirkan tentangnya padaku,mungkin atau bisa jadi tidak sesuai dengan kenyataan.
Aku takut hanya aku
aku takut perhatianmu adalah hal yg biasa bagimu
dan aku ragu untuk melangkah lebih jauh lagi dengan tetap mengagumi dan menjaga rasa ini untukmu
Kalian setidaknya bisa berbicara padaku
apa yg membuat kalian enggan
agar kutau
daripada seperti ini,
menunggu tak ada kepastian
Hei...aku bosan dengan kalian
Sudah berusaha dekat, dan memberikan perhatian
Memelas pun sudah
Kalau bukan demi dunia yang kucintai, aku akan acuh pada kalian
tapi hari ini tidak bisa
Kapan kalian akan mengerti
Aku hanya akan brteman dengan orang yang punya masalah sama denganku, dan mempunyai kegilaan yang sama denganku
jika kau merasa aku orang aneh yang tak sebanding denganmu.
Lebih baik menjauh dariku.
daripada kau buang-buang waktu mencercahku dengan kata-katamu yang busuk bagiku.
Aku memang orang aneh dan sangat sentimentil
jadi cepat menjauh jika kau merasa paling waras di dunia ini
karena kalau tidak aku tikam kau dengan kegilaan yang tlah aku punya
Jangan tanyakan mengapa
hari ini hanya kekosongan
jika hanya mengangguk dan menggelengkan kepala
jangan tanya mengapa
hanya kosong
Dengan bendung
Aku tak ada disini

Hati mati
kematian yang perlahan
Menggugurkan setiap harapan, Seperti dedaunan
hingga suatu hari
tak ada yang tersisa
kita yang tak bisa berkata pada matahari
"tambahkan sinar matahari"
Atau pada hujan
"kurangi hujan"
Tapi setidaknya kita tetap mengenal kebaikan
setelah begitu banyak kejahatan

Dunia mengajarkan kita banyak hal
kesabaran salah satunya
dan... menikmati hidup selagi bisa
jangan pernah mengharapkan kebahagiaan
karena itu bukan hal yang pantas untuk didapatkan
hanya ketika hidup berjalan dengan baik
Itulah hadiah yang mengejutkan
Kebahagiaan tak bertahan selamanya

Hei saudaraku langit !
tidak bosankah setiap hari menunjukkan kesedihanmu
tak nampak sinar senyummu akhir-akhir ini
kau hanya  bergumam dengan nada yang parau dan menggelegar.
teman-teman pohonmu ketakutan
sampai harus melepas daun-daunnya yang setengah kering itu
kembalilah...
tunjukkanlah hangat senyummu
karena daun-daun itu akan tetap kuat berpegangan pada tangkainya
jika kau menunjukkan hangat jari-jarimu padanya